Tulisan yang menggugah kalangan akademisi yang menempati "zona nyaman", bagi mereka yang doyan merampok dan menjarah sumberdaya pendidikan untuk kepentingan pribadi dan jabatannya. 

"....Akademisi yang memanfaatkan hierarki birokratik untuk menghalangi kompetisi pikiran adalah agen kolonial masa kini. Ia mereproduksi struktur dominasi dengan cara yang sangat bodoh: takut pada kebebasan...."

 

WATAK INTELEKTUAL 

Rocky Gerung

(Filsafat FIB UI, rockygerung@gmail.com)

 

 

Apa pikiran anda tentang kondisi kaum intelektual  kini?
Apakah semangat mempertahankan kebebasan masih menandai mereka?
Apakah akademisi adalah kaum intelektual?

Berpikir dalam “konsep” adalah ciri intelektual. Yaitu aktivitas mengolah problem dengan mengambil jarak dari konsekuensi praktisnya. Tetapi sejak Gramsci, pandangan tradisional itu tak lagi dominan. Medan politik memerlukan pikiran yang terlibat. Kaum intelektual menjadi bagian dari perubahan sosial. Terutama pada feminisme, aktivitas berpikir adalah aktivitas mengubah kondisi ketidakadilan, pada seluruh institusi sosial.

Seringkali, kondisi poskolonial menjadi latar dari mental kaum intelektual hari ini. Terutama dalam menerangkan kegagapan  menghadapi globalisasi. Obsesi pada otentisitas menyebabkan kegagapan itu berubah menjadi kebencian pada “yang asing”. Sindrom poskolonial inilah yang kini menguasai alam pikiran kampus. Apakah anda memperhatikan gejala ini?

Bukankah aneh bahwa sikap feodal di antara akademisi justru tumbuh di kampus?  Bagaimana menerangkan hilangnya tradisi kritisisme di Universitas? Misalnya bahwa kepangkatan birokratis menentukan kualitas riset atau jabatan formal dalam birokrasi kampus sekaligus berarti keunggulan intelektual? Dalam debat tentang pengaruh kolonialisme pada sejarah Afrika, Valentin Mudimbe, filsuf Congo, menerangkan bahwa yang lebih menentukan adalah kedalaman ideologis yang ditinggalkan kolonial, ketimbang lamanya masa kolonial itu.

Saya membaca tesis itu di kita, di sini. Artinya, pada masyarakat poskolonial, dekolonisasi belum terjadi pada tahap ideologis dan kampus bahkan menjadi institusi yang mereproduksi hierarki feodal dalam dunia pikiran. Hierarki adalah ideologi patriarkis. Akademisi yang memanfaatkan hierarki birokratik untuk menghalangi kompetisi pikiran adalah agen kolonial masa kini. Ia mereproduksi struktur dominasi dengan cara yang sangat bodoh: takut pada kebebasan.
Maka kita menyaksikan paradoks itu: penampilan publik seorang akademisi terlihat palsu, karena di dalam kampus ia sesungguhnya seorang yang anti keadilan. Ia mengeksploitasi hierarki karena takut pada kesetaraan. Di dalam hirarki, ia menjadi penguasa, menjadi patriarkis. Menjadi kolonialis.

Selalu relevan membicarakan “kaum intelektual” setiap kali kita merasa kehilangan orientasi dalam membaca “tanda-tanda zaman”. Tetapi bagaimana anda mampu mengintip peluang perubahan menuju kemajuan, bila anda bagian dari mentalitas “takut bebas”?

Filsafat adalah undangan untuk berpikir. Tetapi kampus hari ini telah berubah menjadi lokasi birokrasi. Isinya adalah tumpukan formulir. Berpikir mengikuti format formulir?  Itu bukan watak filsafat dan bukan watak intelektual.

 

Sumber: http://www.jurnalperempuan.org/blog/rocky-gerung-watak-intelektual

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :