PERINGATAN HARI HAM INTERNASIONAL 2015

Ancaman Kebebasan Berekspresi dan Kebebasan Akademik Masih Terjadi

 

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Serikat Pengajar HAM (SEPAHAM) Indonesia menilai tahun 2015 ada begitu banyak tekanan dan ancaman kebebasan berekspresi dan kebebasan akademik.

UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang menjerat ekspresi melalui media sosial, terutama dalam kasus pencemaran nama baik (cyber defamation), Surat Edaran Kapolri soal Hate Speech, serta penggunaan kriminalisasi, menjadi isu dominan atas tekanan dan ancaman itu. 

Ketua SEPAHAM Indonesia Herlambang P. Wiratraman mengatakan, pembubaran diskusi dan pemutaran film di berbagai kampus dan kota, terutama terkait film Senyap, Samin vs Semen dan Prahara Tanah Bongkoran, memperlihatkan dinamika pemikiran dan ekspresi telah dibungkam. 

Apalagi, stigmatisasi komunisme memperlihatkan ideologi dan karakter otoritarianisme Orde Baru masih kuat diusung.

Di sisi lain, kampus masih belum menunjukkan posisi pentingnya sebagai praesidium libertatis (benteng pertahanan kebebasan), karena selalu takut di bawah ancaman premanisme atas nama agama maupun pendidikan.

Sebaliknya, kampus justru terlibat merepresi sebagaimana terlihat dalam pemaksaan majalah mahasiswa Lentera di UKSW. 

"Belum lagi, kampus melahirkan proses pendisiplinan pendidik dan mahasiswa dalam skema komersialisasi yang disponsori negara sehingga menjadikan kampus-kampus di tanah air tak ubahnya seperti mesin industri sebuah korporasi pendidikan (state sponsored higher education corporatism)," ujar Herlambang, Kamis (10/12/2015).

Dalam peringatan hari HAM Internasional ini, SEPAHAM Indonesia menyerukan kepada pemerintah, penyelenggara pendidikan serta asosiasi akademisi untuk bersama-sama meneguhkan komitmen atas mandat UUD 1945, khususnya pasal Pasal 28C (1) yang berbunyi: "Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia."

Melawan segala bentuk intervensi yang mengancam dan menekan dengan cara-cara kekerasan terhadap segala aktifitas akademik dan kebebasan ekspresi.

Menghentikan cara-cara berfikir dan tindakan yang mencerminkan anti kebebasan, serta karakter otoritarianisme Orba di kampus-kampus. 

Memperkuat mandat Deklarasi Lima, 1988, Pasal 1, yang menegaskan kebebasan akademik sebagai “the freedom of members of the academic community, inividually or collectively, in persuit, development and transmission of knowledge, through research, creation, teaching, lecturing and writing”.

Memperkuat solidaritas kebebasan akademik di tanah air serta di kawasan, sebagaimana keyakinan kami otonomi keilmuan diperlukan sebagai basis etis dan progresi dalam menjadikan kampus sebagai pengawal pembaruan soaial dan bangunan peradaban kemanusiaan yang lebih humanis.

Dalam kesempatan ini, SEPAHAM Indonesia juga memberikan solidaritas terhadap kolega di Universitas Malaya, Assoc Prof Azmi Sharom yang hendak dihadapkan di muka sidang peradilan/mahkamah pada 16 Desember 2015 atas tuduhan penghasutan, meski dalam kapasitas seorang akademisi yang memberi persepektif atas perubahan baik bangsanya. (*)

http://www.timesindonesia.co.id/baca/111044/20151210/183350/ancaman-kebebasan-berekspresi-dan-kebebasan-akademik-masih-terjadi/


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :